[CERPEN] Srikandi

Srikandi
(Oleh: Amaliah Black)

Terkadang ia bernapas persis anjing pelacak. Lantas mengendusi semacam odor yang campur aduk. Terkadang pula ia seperti kuda liar. Sampai kakinya berderap tanpa batas. Menerjangi undakan yang menggunung di penghujung jalanan tanah kering, berupaya meringkus jawaban atas tanda tanya yang terkatung-katung di udara. Atau barangkali ia hanyalah anjing yang menjelma manusia… atau kuda yang menjadi manusia. Sebab yang ia tahu, kehidupan bukanlah sekadar hubungan platonis. Bukan juga percumbuan yang basa-basi.

Lalu, telinganya sebentar lagi mendengar. Orang-orang akan bicara tentang laki-laki, kemudian perempuan. Perkawinan, kemudian kematian. Yang pada akhirnya jadi berlarut-larut, mengendap hingga ke dasar, menciptakan gumpalan yang menyumbat aliran. Genangan pun berubah keruh. Dan lagi-lagi hidungnya kembali menangkap bebauan yang amat dikenalnya. Bau dosa.

Persetan.

Aku perempuan. Aku laki-laki. Aku bisa jadi kedua-duanya.

Lagi-lagi pergunjingan itu bersambung; fitrah perempuan adalah membutuhkan laki-laki.

Cih, ia menghardik. Dengusnya kini terasa satu-satu. Kemarau yang mengulur waktu seakan mengirimkan retak-retak pada tanah, dan asap yang memenuhi atmosfer mulai terasa pedas di mata. Ia menangis, terisak-isak sampai tangannya tak tertahankan lagi untuk segera menutup wajah. Dirinya merasa telah menempuh perjalanan hidup yang amat meletihkan jiwa dan raga, dan buntu pada sebuah tanda tanya besar.

Ingin sekali ia mengundurkan diri dari kenyataan, tetapi lamat-lamat hidungnya kembali menciumi aroma serupa. Bau dosa. Bahkan ketika intuisinya tergerak untuk membimbing saraf inderawi dalam melakukan tugasnya, ia mengingat satu hal.

Waktu itu, di usianya yang genap dua belas tahun, aroma yang sudah bertahun-tahun merasuki benaknya berangsur tersingkap. Menampakkan wujud asli sebagaimana ia melihatnya seperti pemandangan yang liat di mata. Gelombang desah memburu bukan lagi satu-satunya yang menembus ruang kesadaran. Namun juga tangan dan kaki yang saling membelit. Memicu gerak naik-turun yang ritmis, hasil kolaborasi dua manusia telanjang yang seperti dikuasai berahi, yang kala itu, ia tidak mengerti apa tujuannya.

“Mamak[1]?!” suaranya tahu-tahu meluncur, menyela di antara desau yang beradu.
Tubuh Mamak seketika berhenti meliuk, dan erangan yang menguar dari mulutnya serta-merta tertahan—terkesiap. Pun tak ada bedanya dengan lelaki yang tengah berbaring di atas perempuan itu. Menunjukkan ekspresi sama-sama kaget.

Oh.

Di ambang pintu, gadis kecil itu sontak tergagu. Lantas menerka-nerka dan sepasang matanya terus bertumbukkan pada sosok yang menindih selangkangan Mamak.

Maka dimulai hari itu, ia berhenti menanyakan apa-apa. Sebab di hari-hari berikutnya semua berlalu seperti tidak ada apa-apa. Juga lelaki di kamar Mamak yang sampai sekarang tak muncul-muncul lagi, seolah adegan malam itu hanyalah petualangan mimpi yang akan terus berulang. Mamak yang melenguh di bawah bayangan. Desah napas yang mirip seembus angin. Dan pekikan yang terdengar berdecit-decit. Entahlah. Gadis itu masih terlalu muda untuk mengerti, dan Mamak juga tampak tak sanggup menjelaskannya.

-oOo-

“Satu, dua, tiga. Hap!”

Awan mendung yang semenjak tadi bergelantungan kini berangsur mengucurkan rintik tipis. Bagai berpacu dengan air langit yang membuatnya kuyup, gadis itu dengan lincah berbelok, lantas melompati becekan yang berserak di jalanan setapak. Tubuh mungilnya melesat seperti anak kancil, dan petir pun terbahak-bahak semakin riang.

Srikandi yang baru pulang sekolah segera melirik kanan-kiri, kemudian menepi ke sebuah warung yang sudah tutup. Hujan seakan menyembunyikan seluruh kehidupan di perkampungan itu. Tak ada lagi semarak ibu-ibu yang biasa duduk di lincak depan rumah sambil menyuapi makan anaknya, atau dua-tiga remaja tanggung yang ongkang-ongkang kaki seraya klepas-klepus mengisap rokok. Semua terasa berbeda. Sepi cenderung muram; lampu yang menyala remang seperti disaput kabut, dan sederetan pintu rumah-rumah warga yang hampir seluruhnya terkatup rapat. Jelas Srikandi jadi terheran-heran. Perihal hujankah?

Lalu, gelegar guruh lambat-laun memudar. Gemericik gerimis yang mulanya memenuhi pendengaran seketika reda, menyisakan bunyi keletak-keletik bila sejumlah bulir di pucuk daun jatuh menghantam bebatuan. Bau tanah yang terkombinasi air hujan pun diam-diam mengeruak, menghapuskan aroma bacin yang sempat terendus lewat gunungan sampah dekat selokan.

Beberapa jenak, Srikandi menengadah. Ngeri bakal terjadi hujan susulan yang bahkan lebih deras. Namun kekhawatiran itu kelihatannya tanpa alasan. Sebab kini langit kembali membara, kekuningan bersama bekas-bekas mendung yang susut tertelan pendaran matahari. Seolah punya keyakinan yang sama, beberapa orang yang berteduh di warung itu juga bertahap menghilang, disertai desing kendaraan yang mengisi kelengangan itu.

Srikandi jelas tak mau kalah. Gadis kecil itu turut menjejaki tanah yang kini berbencah, hati-hati memilah dan mengelak dari jalanan yang barangkali dapat meninggalkan lempung di sol sepatunya. Atau Mamak bakal marah, batinnya membayangkan wujud sang ibu dengan hiasan lesung pipit yang tercetak jelas apabila perempuan itu mulai bicara.

Setelah berhasil melewati beberapa mulut gang, telinga Srikandi sayup-sayup menangkap hentakan musik yang bertalu-talu. Hujan baru saja lesap, dan riuh rendah kerumunan kembali mengambilalih suasana. Di petang itu, ada tawa yang seketika pecah, diselingi sorak-sorai seperti tengah menonton aksi. Hingar-bingar suara musik terus mengiring, dan Srikandi tak sanggup lagi mengalahkan rasa penasarannya untuk lekas memastikan. Buru-buru kakinya memperlebar langkah, mulai membuntuti jejak-jejak yang seolah membimbingnya menuju keramaian itu.

“Ada artis masuk kampung ya?” gumam Srikandi yang kala itu masih terlalu naïf untuk mengenal hidup.
Setiap tapak kakinya masih berlari-larian seperti tak mau berhenti, namun semakin dekat ia melangkah, geraknya kian melambat. Dan ketika pentas itu teramat jelas di mata, tak ada yang mampu menahan Srikandi untuk tidak terperangah, tidak pula dirinya sendiri. Maka dengan tatapan yang seolah tengah menerjemahkan sesuatu, urat tenggorokan Srikandi serasa mengerut.

Tahun ini, usianya genap dua belas. Tetapi setidaknya gadis kencur itu bisa menangkap adanya wawasan yang masih sumir tentang hakikat moral dan harga diri. Ia pernah mendengar gurunya berceramah soal agama yang menuntut orang-orang untuk punya adab. Tentang lelaki, dan perempuan. Tentang jeruji yang membatasi— sang guru bakal menyebut-nyebut kata monokrom semacam tabu dan haram.

Juga belakangan, Srikandi mendapati sejumlah warga bahkan para tetangga sebelah yang bercakap-cakap tentang perkawinan. Nilai-nilai suci, upacara sakral, pranata kehidupan, dan puncaknya ketika sebagian dari mereka beranggapan bahwa Tuhan akan memberkahi siapa-siapa saja yang berani menikah. Beruntung di waktu yang sama, Srikandi tak begitu gegar pada persoalan yang barangkali pelik untuk dipahami. Hanya saja suatu hari nanti, ia pasti mengerti apa yang lebih jenaka ketimbang kartun pagi favoritnya: pelaminan yang terpancang tegak, serta orang yang wara-wiri menyalami kedua mempelai. Semua itu nyatanya tak lebih dari kain kelambu yang kelak akan menjadi penutup aib sang orok, menggantikan perut membukit di balik balutan kebaya putih mewah cemerlang.

Kesucian pada pesta perkawinan yang dihelat kemudian dirayakan dengan sholawatan, lalu diakhiri dengan jamuan makan malam. Tetapi, sore itu situasinya berbeda. Sebab yang mengadakan resepsi hari ini adalah anak juragan karet. Jelas warga kampung merasa gembira. Peduli setan soal bunting di luar nikah, yang penting penantian menuju hari senin bisa menjadi gebyar dengan dendang musik dangdut semalam suntuk. Dari yang memakai kaos oblong sampai seragam safari, semuanya kini terhimpun ke dalam satu panggung, mengayunkan lembar lima puluh ribuan di wajah biduan semok, sesekali menandak-nandak seiring ritme.

“Abang-abang mau request lagu apa?” Manakala pentas kembali lengang, biduan lainnya datang bersama bokong yang lenggak-lenggok. Tubuh sintal dengan kedua belah paha tebal itu hanya dilapisi rok pendek dan baju tanpa lengan yang tampak ketat. Membentuk jelas tiap kurva dan tonjolan yang menggunung.

Sontak seorang lelaki berperawakan ceking dan berahang tinggi meneriakkan sebuah judul lagu dari bawah panggung, “Kereta Malam!”

Si biduan tersenyum, memamerkan lesung pipit yang melekuk dalam. “Kalau mau dinyanyikan, Abang naik ke sini dong!” ungkapnya dengan wajah kenes. Suara biduan itu terdengar serak, tetapi bukan parau.

Sementara di sudut lapangan yang kian sesak, Srikandi masih bergeming tanpa bicara. Dirasakannya keresahan yang semakin berat ketika matanya menelusuri jauh menuju panggung. Ia hampir kehabisan napas ketika si biduan mulai menggerakan perut tipisnya di tengah alunan organ tunggal, lantas meliuk-liuk bagai setangkai kenikir diembus angin.

Jug kijag kijug kijag kijug….
Kereta berangkat…

Dulu Srikandi sangat percaya. bahwa sosok yang senantiasa menyanyikan lagu pengantar tidur untuknya adalah utusan Tuhan. Sebab wajahnya bidadari. Sepasang mata bundar yang ditudungi lapisan bulu panjang dan lentik, lesung pipit yang seakan mampu menyedot perhatian, serta kulit putih bersih tanpa selulit. Karenanya dulu Srikandi sempat berpikir bahwa ibunya serupa Siti Maryam yang mengandung  bayi tanpa ayah. Pun seperti Srikandi yang tak pernah mengenal ayahnya entah sampai kapan. Padahal beberapa teman akan bercerita tentang bapak mereka yang pekerja kantoran, atau pengepul barang-barang bekas. Dan setiap kali pembicaraan itu dimulai, terpaksa Srikandi duduk diam mendengarkan. Sebab ia tidak punya ayah. Bahkan hampir dari seluruh warga Sukawinatan mengerti bahwa Srikandi adalah seorang yatim.

 “Woi, Srikandi!”

Refleks gadis itu menoleh dan langsung mendapati seorang bocah lelaki tengah terkekeh-kekeh ke arahnya. Barangkali untuk mengejek.

“Gila. Mamakmu memang joss!” seru bocah itu dengan tawa yang semakin nyaring. Perut gendutnya kembali berguncang-guncang. “Lihatlah sana.” Ia  melangkah mendekat, kemudian kembali bicara dengan suara cadel dan pelafalan huruf R yang seperti tersangkut di kerongkongan, “Lebih bagus lagi kalau di lehernya ada ular.”

Perhatian Srikandi lagi-lagi melayang ke arah biduan di atas panggung. Yang terlihat adalah sosok berbusana setengah bugil yang sesekali bergoyang, menyongsong, menempelkan tubuh berkeringat kepada penyawer, lantas lanjut bernyanyi. Potongan-potongan lirik lagu dangdut terus terdengar. Baur dalam isi kepala dan desau angin yang meniup-niup. Kontan Srikandi menyangsikan seluruh khotbah yang pernah dituturkan tepat di depan wajah. Tentang golongan yang menjaga kehormatan. Tentang kaum yang dianggap lambang kemuliaan. Tentang jenis yang disebut perempuan.

Cepat-cepat Srikandi menyembunyikan air mata. Betapa nahasnya mengetahui hal itu belakangan.

“Lagu ini dipersembahkan buat Bang Irul yang punya wilayah,” suara si biduan seperti menyela kerumunan, agak terengah-engah usai menuntaskan satu lagu penuh. Tepat ketika pemain organ tunggal kembali membunyikan iringan musik, biduan itu kembali asyik-masyuk dengan para lelaki yang mengitarinya.

Bocah tambun di hadapan Srikandi sontak mengikik. Namanya Barong, tetapi kerap dipelesetkan menjadi Bagong akibat ketidakmampuannya dalam mengucapkan huruf R. Dan untuk kali kesekian, perut Barong bergerak-gerak saat kupingnya mendengar biduan tersebut berulang kali berteriak, “Sukawinatan digoyaaang! Hei!”

Serangkaian bunyi organ tunggal yang menghentak merambat keluar lewat kotak-kotak suara, lalu mengaliri penjuru telinga, sampai Srikandi sedikit pekak dibuatnya. Suara biduan jadi hilang timbul akibat sound system yang tidak stabil. Lantas pandangan Srikandi beradu pada muka Barong yang masih terpingkal senang, dan gadis itu merasa dadanya seperti dijejali bongkahan besar.

“Mamakmu hebat, Sri,” ujar Barong lagi usai tawanya reda. “Semuanya tergila-gila sama mamakmu.” Bocah itu berkata seraya menunjuk keramaian tenda.

Tanpa pernah meninggalkan sepatah kata, Srikandi buru-buru berlari menjauh dengan hati pecah seribu. Seragam sekolahnya perlahan-lahan basah oleh keringat, dan pemandangan di depannya jadi mengabur lantaran terhalang genangan yang berkumpul di pelupuk.

Dalam perjalanan pulang, Srikandi tidak bicara karena ungkapan dengan makna apa pun tidak akan mampu mewakili perasaannya. Kenyataan bahwa bertahun-tahun ibunya telah menyimpan banyak rekayasa yang tidak diketahui. Maka Srikandi harus percaya pada keperkasaan waktu dalam menyingkap segalanya.

 “Mamak…,” barulah Srikandi mengisak, yang kemudian lenyap terseret jeritan burung-burung di atas kepala. Kedua kaki Srikandi terus berpacu, berderap-derap seperti serdadu yang menghindari kejaran rudal. Sungguh, ia tidak tahu pasti apa yang bakal dialami sesampainya di rumah. Mungkin akan bertemu kembali dengan ibunya yang sudah memakai daster, atau justru mendapati pintu yang terkunci gembok sebab tidak ada siapa-siapa di sana.

Ada ketidakpastian. Dan secara mendadak Srikandi membenci dirinya sendiri karena mengetahui semua hal. Ibunya yang ternyata bukan bidadari. Sosok yang bukan utusan Tuhan. Dan wajah yang tidak lagi menggambarkan citra kelembutan kasih. Yang tadi dilihatnya hanyalah hasrat kebinatangan yang meletup-letup bagai magma. Padahal Srikandi berusaha untuk tidak memercayai matanya, tetapi ungkapan Barong sudah cukup menjelaskan segalanya.

Seiring Srikandi yang melewati perempatan jalan kecil, bunyi dari permainan dawai elektronis lambat-laun menghilang. Suasananya berubah sepi. Kendati ombak yang bergelora telah menjelma riak-riak kecil, namun Srikandi masih tak bisa tenang. Spontan ia memperkecil langkah, lantas melihat sekeliling yang terasa lebih senyap.

Dari balai-balai bambu warung kopi di pinggir jalan, serentak orang-orang memusatkan perhatian pada Srikandi yang linglung seperti anak hilang. Di antaranya menatap dengan syak, sebagian lainnya saling menggumamkan sesuatu.

“Sudah hampir maghrib, kok anak itu belum juga pulang. Emaknya masih sibuk goyang sana-sini ya?” bisik yang sedang mengaduk-aduk kopi pahit kental.

“Hush. Dia masih kecil, belum ngerti apa-apa,” sergah Bu Dullah pemilik warung seraya menyajikan segelas teh hangat dan goreng pisang pada pelanggan yang baru saja datang. “Kau antarkan saja dia balik. Kasihan.”

Yang disuruh hanya bisa mendengus, namun tidak membantah. Bukan lantaran ia orang yang patuh, tetapi karena takut Bu Dullah tak akan memberikannya piutang lebih banyak lagi.

Dengan separuh hati, maka tukang ojek itu menghampiri Srikandi yang melangkah di tengah kemuraman senja. Matahari lambat-lambat menyentuh kaki langit, nyaris tertelan batas cakrawala. Sudah pukul enam sore, dan rombongan nyamuk mulai menyerbu lewat semak belukar yang menjalari sebuah rumah kosong.

“Sri!” tukang ojek itu memanggil. “Ayo, Abang antar pulang,” lanjutnya seraya menggulung sedikit kedua lengan jaketnya yang kegombrongan.

Srikandi memandang sebentar. Ingatannya seperti merangkak-rangkak, dan ia yakin kalau pulang ke rumah bukanlah pilihan menyenangkan. Ibunya yang bukan lagi bidadari pasti akan menyambut, entah dengan hanya mengenakan sempak atau daster kebesaran yang biasa dipakai. Srikandi menganggap bahwa otaknya tidak bisa lagi mengenali mana yang sungguhan dan mana yang muslihat. 

Sontak  Srikandi menggeleng.

“Kenapa tidak mau pulang?” kontan tukang ojek itu terheran-heran. “Kau bakal dicari mamakmu kalau jam segini belum pulang.”

“Mamak tidak di rumah,” Srikandi akhirnya mampu berkata lugas. Usianya dua belas, dan minggu kemarin adalah haid pertamanya. Ia sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan, dan ia sedang tidak ingin menghindari apa pun. “Bang,” Srikandi tahu-tahu memanggil.

Tukang ojek itu menanggapi dengan alis terangkat.

“Antarkan saja aku ke tenda nikahan anak Wak Damar si juragan karet itu,” ujar Srikandi masih dengan kepala mendongak. Ia ingin memastikan sekali lagi. Bila yang terlihat nanti tetaplah sama, maka remuk sudah kebanggaan akan sosok ibunya. “Setelah itu, aku bakal balik ke rumah.”

Tukang ojek itu lantas menurunkan tatapannya untuk melihat Srikandi. Tatapan mata yang seperti hendak membongkar sesuatu, secara tidak langsung telah memperkuat keyakinan atas kenyataan yang terekam beberapa waktu lalu.

-oOo-

Bersama bunyi jangkrik yang berderik-derik, tukang ojek itu menepikan motornya ke sebuah medan luas bertudung tenda biru dengan lima belas buah besi penyangga. Lapangan itu tampak lebih kotor dari biasanya. Cangkir kemasan, tisu yang sudah lecek, batang lidi, dan segala macam sampah bertebaran di sela-sela rumput yang tumbuh.  Di beberapa sudut lapangan juga terdapat kursi plastik yang disusun ke dalam tumpukkan menjulang, serta di ujung sana, tampak sepetak panggung dengan sejumlah orang yang duduk-duduk seraya bermain kartu. Seperangkat piano organ tunggal teronggok begitu saja. Barangkali lantaran mau maghrib, jadi acara dangdutan semalam suntuk ditunda dulu.

“Sri, turun,” ujar si tukang ojek tiba-tiba.

Di malam yang masih muda, agaknya Srikandi kecewa sekaligus lega manakala matanya tak lagi menangkap kerumunan yang sama. Kecewa sebab ia tidak mendapat kepastian, namun juga lega karena bisa saja apa yang sempat diyakininya adalah sebuah kesalahan. Jadilah gadis kecil itu turun dan merasakan sepatunya tak sengaja menginjak kubangan lumpur di dekat roda.

Tukang ojek itu lalu memarkirkan motor, melangkah mendekati panggung untuk menemui rombongan yang sedang seru dengan permainan kartu di atas panggung. Ia melaju gesit sehingga Srikandi harus berlari-lari untuk mengekor. Tiga menit berselang, gadis itu kemudian mendengar si tukang ojek berbicara kecil.

“Nah,” sadar akan Srikandi yang bersembunyi di balik tubuhnya, maka tukang ojek itu berbalik untuk berkata, “jadi kau mau apa ke sini?”

Sepasang mata Srikandi menyapu sekitar. Sinarnya seperti hampa, dan wajahnya membiaskan ragu. Kerisauan yang mengkristal dalam dadanya tak kunjung meretas, sehingga di luar kesadarannya, Srikandi sekonyong-konyong balik bertanya, “Mamak mana, Bang?”

“Hah?”

“Tadi sore, aku lihat Mamak berjoget di sini.”

Tak disangka-sangka, tukang ojek itu berdiri tertegun. Beberapa orang yang bermain kartu ikut-ikutan bengong. Kalimat pertama yang hendak diucapkan justru menjadi sesuatu yang sukar ditemukan.

“Barangkali… kau salah lihat.”

“Tapi Barong bilang yang berjoget tadi memang Mamak, Bang!” Srikandi menaikkan nada suaranya.

“Barong cuma mau meledekmu saja, Sri. Sudahlah, ayo kita pulang.”

Tanpa menerangkan lebih banyak, tukang ojek itu betul-betul beralih dan kembali ke motornya. Diam-diam ia merasa miris. Boleh saja hatinya membenci perempuan yang disebut sundal dan bunting tanpa pernikahan, tetapi Srikandi adalah kehidupan yang masih berkecambah. Ada tragedi dan kenisbian jika mengingat kehadiran gadis kencur yang dibesarkan dalam lingkungan paradoks. Dosa sebentar lagi menyentuh, dan Srikandi bakal mengerti betapa dunia bukanlah sebuah angan-angan yang diharapkan.

Srikandi pun kembali dibonceng oleh si tukang ojek, lantas meluncur membelah jalanan. Sepanjang itu pula, rekaman Srikandi tentang biduan berlesung pipit lagi-lagi terputar demikian jelas. Iringan dangdut yang menghentak sampai mendebarkan dada, dan juga gerak-gerak yang menimbulkan gelenyar dalam tubuh. Kemudian muncul bayangan Barong yang terkekeh mengejek. Seolah apa yang melekat di badan Srikandi adalah aib tak tertanggungkan.

Padahal ia ingat betul bagaimana ibunya mengayomi dengan wajah yang menyejukkan. Ketika Srikandi baru lima tahun, sebelum tidur, ibunya akan bercerita tentang putri yang menikahi pangeran, tentang laki-laki dan perempuan yang saling menyayangi, atau kisah-kisah nabi yang menakjubkan. Dan berkali-kali pula Srikandi akan menyela dengan pertanyaan yang tidak nyambung, seperti: Mak, siapa ayah itu? Bagaimana rupanya? Dan mengapa teman-teman yang lain punya ayah sementara aku tidak?

 Dan ibunya akan berhenti mendongeng, lalu membelai anak-anak rambut di sekitar dahi Srikandi seraya berbisik, “Ingat cerita Maryam?”

Sontak Srikandi menepis keras-keras seluruh yang diingatnya. Kenangan itu terasa menohok, sebab ia belajar bahwa Siti Maryam melahirkan seorang nabi, sedang ia sendiri hanyalah bocah perempuan yang tidak tahu apa-apa. Karenanya ia tak ingin lagi memutar ulang segala ingatan tentang masa kecil. Dan Srikandi mulai merasakan kepahitan sejarah hidupnya sebagai anak dari sosok perempuan dan orang tua tunggal. Juga seorang anak dari seorang pendusta.

Setelah menempuh jarak antara tenda pernikahan anak Wak Damar dan rumah Srikandi yang memakan waktu sepuluh menit menggunakan motor, tukang ojek itu berhenti di sepetak halaman sebuah rumah berdinding batako. Cahaya bohlam dari dalam mengeruak lewat ventilasi pintu dan jendela. Pertanda ada seseorang di sana.

“Mamakmu ada di dalam,” ujar tukang ojek itu ketika Srikandi turun dari tunggangannya. “Lain kali jangan suka pulang sore-sore. Nanti kena culik orang jahat.”

Srikandi mengangguk, menyunggingkan senyum tipis seakan-akan tidak takut pada peringatan itu. Lantas ia segera berbalik, berlari menghambur ke arah pintu, dan bingung ketika mendapati kenopnya sama sekali tidak dikunci.

Sekonyong-konyong Srikandi merasa bulu tengkuknya meremang. Hatinya berkata ada yang tidak beres. Lalu ia memasuki rumah dengan hati-hati, dan melihat televisi di ruang depan dibiarkan menyala tanpa ada yang menonton. Sebuah puntung rokok pun terjatuh di dekat kaki meja, hingga abunya mengotori lantai.

Seumur-umur, Srikandi tak pernah merasa seasing ini. Posisi barang yang memenuhi rumahnya tetap sama, tetapi suasananya terasa amat berbeda. Biasanya, setiap pulang sekolah, ibunya akan menyambut dengan tergopoh-gopoh. Dan Srikandi akan mencium aroma bumbu dapur dari daster perempuan itu. Namun, ia tahu, kewajaran yang sudah menjadi kebiasaan seolah tidak berlaku lagi untuk saat ini.

Dengan jantung yang seperti rontok ke bawah perut, Srikandi akhirnya menangkap biang kejanggalan itu. Pintu kamar Mamak menganga selebar-lebarnya, membiarkan orang yang bergumul di atas ranjang sama-sama asyik dengan dunia mereka sendiri. Ada tangan dan kaki yang beradu, desah yang saling balas membalas, bulir-bulir keringat dan kulit yang bergesekan, dan pekik-pekik tertahan yang seolah takut terdengar orang lain.

Srikandi meneguk ludah. Sebuah dunia kecil telah lama berakhir dan kini tinggal remahnya. Sosok yang terlihat tentu tetaplah Mamak—bersama lelaki yang entah siapa. Godam seperti mengguncang pertahanannya dan akal budi Srikandi seperti hilang bagai ilalang kering dilahap api.

“Mamak?!”

Sunyi. Mencekam. Bulu kuduk merinding. Adakalanya orang menjadi teramat ngeri bila tiba-tiba berhadapan dengan seorang penyusup yang berupaya mengambilalih seluruh kehidupan. Srikandi spontan terhenyak sewaktu sosok tak dikenal itu berubah panik, dan Mamak yang telanjang bulat turut terkesiap. Namun sebelum semuanya dapat dihindari, sosok itu mengeluarkan pisau dan mendekatkannya ke leher Mamak. Pisau yang seketika terayun dengan cermat, lalu menyayat seperti pisau bedah.

Untuk kali ini, teriakan Mamak tidak lagi tertahan. Justru teramat melengking sampai menelusup masuk ke bagian otak besar Srikandi, membangunkan saraf-sarafnya untuk segera bertindak. Dengan persendian yang nyaris luruh, gadis kecil itu kontan berlari keluar rumah, terbirit-birit dengan mulut yang menjerit-jerit.

“Ada apa, Sri? Ada apa?”

Srikandi menangis di hadapan Bik Ainah, tetangga yang letak rumahnya kurang dari seratus meter. Di antara sedu-sedan, gadis itu tergesa-gesa berujar, “Mamak diperkosa, Mamak dibunuh! Tolong Mamak, Bik!”

-oOo-

Aku perempuan. Aku laki-laki. Aku bisa jadi kedua-duanya.

Baru saja api dari pemantik menyulut rokok yang terapit di kedua belah bibirnya, seseorang kembali menegur agar ia kembali melanjutkan cerita, “Jadi… pembunuh mamakmu itu sebetulnya siapa?”

Gadis kencur tadi sudah menjelma seorang dewasa. Rambutnya ikal sepunggung, berbadan sintal dengan paha yang tebal. Namun garis-garis yang berpadu dalam wajahnya sama sekali tidak mirip dengan biduan organ tunggal yang mati digorok itu. Ia tidak punya lesung pipit. Dan bentuk matanya tidak bundar, justru cenderung sayu. Namun, yang membuat keduanya terlihat serupa adalah citra yang sama-sama menggambarkan kekosongan. Juga perjalanan hidup yang seperti melewati antah-berantah.

“Kata orang…,” barulah perempuan itu bersuara usai mengembuskan asap dari celah bibir. Terdengar parau. Sepasang matanya pun sembab akibat tangis yang tak mampu ia cegah. Karenanya, cepat-cepat ia meraup sebatang rokok dari kotak di atas meja sebelah ranjang. “Kata orang, pembunuh itulah yang menghamili Mamak dulu.”

Lelaki yang berbaring di atas ranjang yang sama spontan melonjak bangun. “Ayahmu?!” Mau tidak mau ia melotot, “Kau serius, Sri?” Suaranya yang baritone terdengar kesulitan mengucapkan huruf R.

Perempuan itu malah duduk membelakangi si lelaki sambil mengangkat bahu, seakan tak acuh. Rasanya ia sudah malas untuk peduli lagi pada tragedi itu. Bahkan di umur yang sudah tiga puluh enam, hidupnya masih luntang-lantung tanpa pernikahan, dan tentu saja ia juga malas untuk terus menggubris cemooh orang yang bicara tentang perawan tua.

Lagipula siapa sih yang bisa betul-betul menjamin bahwa yang digunjingkan sesungguhnya masihlah seorang perawan? [ ]


[1] Ibu


Cerpen ini pernah diterbitkan dalam antologi bersama #KampusFiksiEmas3: Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya (Diva Press, 2016) dengan judul yang berbeda.
Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya (Diva Press, 2016)

You Might Also Like

0 komentar