![]() |
| google.com |
Saya ingin mencintai kehidupan lagi.
Itu yang belakangan ini memenuhi tempurung kepala saya.
Sebab, saya sudah lupa bagaimana caranya terbahak sepenuh hati. Entah kapan kali terakhir saya mampu merasakan ledakan energi yang membuat saya kebanjiran dopamin, yang berhasil membuat saya melonjak girang dan melompat-lompat bagai anak kanguru yang baru dilepas induknya.
Saya pikir kehidupan saya telah meredup sejak berabad-abad lalu, meski usia saya belum genap menyentuh angka tigapuluh.
Bahkan saya pernah berpikir, jangan-jangan saya adalah jelmaan babi yang harus hidup menjadi manusia karena kegagalan di masa silam.
Tapi siapa yang tahu?
Saya mulai mengemasi pakaian dan barang-barang ke dalam koper merah muda berukuran 24 inchi, lalu beralih memeriksa jadwal penerbangan yang dikirimkan via ponsel. Pukul 9 malam nanti.
Tarikan napas berat langsung berembus dari mulut saya, dan sebuah bongkah besar seperti mendesaki kerongkongan. Apakah meninggalkan tempat ini adalah keputusan yang tepat?
Perlahan mata saya teredar ke sekeliling. Langit-langit kamar terasa begitu tinggi dan dinding-dindingnya yang terasa dingin. Ingin sekali saya menangis, tetapi saya bingung. Apa yang harus saya tangisi sementara kehidupan di tempat ini hanya memberikan penderitaan bertubi-tubi?
Bukankah seharusnya saya bahagia?
Tetapi hati saya seperti sudah mati. Getarannya sudah lama hilang dan sekarang hanya berfungsi menyaring racun-racun yang kerap saya konsumsi. Saya tertawa getir. Kenyataannya saya sudah serusak itu.
Lalu saya bersiap meninggalkan ruang hotel yang pengap, bergegas menuju lobi dengan langkah lebar-lebar, lantas seseorang tiba-tiba bersuara lantang, terdengar dari ujung koridor di balik punggung. Membuat gerak kaki saya secara penuh tertahan.
Orang asing.
Dia memungut sebuah kartu dari lantai tak jauh dari tempatnya berdiri di sudut lorong. "Yo-yo card punyamu?"
Saya merogoh saku, tersadar akan sesuatu lalu mengangguk. Saya memang ceroboh.
Saya pun berbalik, mendekati orang asing itu dengan setengah berlari. Tadinya saya hendak buru-buru, tetapi mengingat penerbangan masih 8 jam lagi, maka saya pun berbasa-basi, "Terima kasih. Mau kutraktir makan siang?"
Orang asing itu menatap saya setengah bimbang. Keningnya mengernyit, nyaris membuat kedua ujung alisnya menyatu. "Aku mau minum bir saja."
Kontan saya meniru ekspresi wajahnya; mengerutkan dahi, dan saya harus mendongak sedikit karena orang asing itu punya figur seperti beruang kutub. Mungkin 190 centimeter. Puncak kepalanya nyaris menyamai tinggi kusen pintu kamar hotel. Saya pikir perlu dua sampai tiga orang dewasa hanya untuk membopongnya kalau-kalau dia pingsan di tengah jalan.
Tapi bukan itu masalahnya sekarang.
Perut saya sudah lapar, dan sebelum sempat saya bicara lagi, laki-laki itu pun berkata, "Temani aku minum bir. Mereka punya makanan enak juga di situ. Restoran murah tapi menu-menunya setara michelin star."
"Sepertinya kamu banyak tahu soal kota ini."
Sekilas dia mengangkat bahunya yang lebar dan agak bungkuk. "Barusan cari di google sih."
Oh.
"Aku cuma turis. Baru kemarin tiba di sini."
Saya tertawa. "Kalau aku sih pengungsi."
••♪••
Restoran itu tidak terlalu besar. Hanya petak ukuran empat kali empat, dua lantai, dan interiornya mencerminkan peradaban Cina kuno. Ketika menjejak masuk, saya segera disambut bunyi kerincing uang logam dari arah meja kasir dan denting es batu yang beradu di dalam gelas-gelas kaca. Pengunjungnya cukup banyak tapi kesemuanya berbincang dalam nada-nada rendah. Sepasang mata saya sontak mencari-cari meja yang kosong, dan seseorang seketika menyeret lengan saya ke arah lain.
"Lebih baik di situ. Kita bisa ngobrol sambil lihat jalanan kota."
Seperti dihipnotis, saya tidak membantah dan lebih memilih mengikuti gerak orang asing itu. Kami berdua duduk bersisian dengan posisi menghadap dinding kaca dengan meja-meja mahogani yang menempel. Kedua mata kami segera tertuju pada hiruk-pikuk lalu lintas dan kerumunan manusia yang saling membaur.
Di musim dingin, orang-orang melangkah lebih cepat, tergopoh-gopoh dengan gestur meringkuk, sesekali merapatkan jaket, sebab di luar angin meniup sangat kencang. Padahal ini sudah penghujung bulan Februari. Seharusnya sudah mendekati musim semi, tapi entah mengapa, suhu dan cuaca tidak juga menghangat.
Saya benci musim dingin.
Sekitar lima belas menit menunggu, pesanan pun datang, memenuhi meja-meja di hadapan. Sepiring nasi dan irisan bebek peking panggang, satu baki jamur tepung, segelas teh susu hangat dan sebotol bir.
"Kenapa nggak pesan char siu?" orang asing itu bertanya ketika saya meraih nampan berisi hidangan makan siang, lalu menyodorkan botol bir padanya.
"Memangnya kenapa?" saya balik bertanya, mulai menyumpit irisan bebek di piring.
"Menurutku itu salah satu kuliner terbaik di wilayah Cina dan sekitarnya."
"Oh ya?" saya merespons dengan tenggorokan yang sulit menelan karena irisan daging tersebut kering sekali. "Char siu itu daging yang dimasak dengan lima macam rempah kan?"
"Yep!" orang asing itu menenggak birnya langsung dari botol.
"Oh, aku tahu."
"Aku mulai tergila-gila dengan makanan satu itu ketika aku liburan di Singapura beberapa tahun lalu," dia menjilat bibirnya yang kecil. Ketika tersenyum, lesung pipi tercetak jelas di kedua pipinya yang bulat. "Jadi sejak itu, aku sering bereksperimen soal bumbu dan teknik memasaknya di apartemen."
"Kamu suka masak?"
"Banget!"
Tahu-tahu saja daging yang tadinya tersangkut di tenggorokan menjadi lunak. Saya tertegun sejenak.
Orang asing ini... menarik juga.
Dia muncul begitu tiba-tiba, tanpa saya sadari, dan sekarang dia sudah duduk di samping saya dengan rona wajah cerah dan mata berbinar sambil menceritakan kisah-kisahnya selama berkeliling Asia.
Orang asing itu berasal dari daratan Eropa. Bukan perkara sulit untuk menebak karena sedetik saya melihatnya, saya langsung tahu. Kulit pucat, rambut pirang ikal, hidung ramping kecil dengan lubang-lubang yang mungil, kedua belah bibir tipis dan merah muda. Jika melangkah, dia bergerak persis beruang kutub yang baru selesai hibernasi. Ketika berdiri bersisian, saya hanya setinggi ketiaknya dan itu sedikit membuat saya berdesir ngeri.
Tetapi pembawaannya yang hangat, iris mata hijau keabu-abuan yang menatap dalam, dan sepasang lesung pipi yang secara konsisten muncul tiap kali dia berbicara, membuat saya lupa bahwa dia punya potensi menjelma sosok genderuwo albino.
Orang asing itu meneguk birnya kembali. "Kamu cuma sendirian di sini? Mau jalan-jalan? Bekerja?"
"Melarikan diri."
Dia berkedip dua kali, mulutnya hendak mengatakan sesuatu lagi namun tertahan ketika saya tergelak.
"Bercanda," saya bilang. "Aku sudah lima tahun tinggal di sini dan akan pulang ke negaraku malam nanti."
Gelombang di wajahnya sedikit kaku. Orang asing itu menggeser tubuh untuk benar-benar menghadap saya. "Jadi kamu bukan orang sini?"
"Huh?"
"Maaf, mungkin ini terdengar rasis, tapi kupikir tadi kamu asli Taiwan. Aku agak sulit membedakan orang-orang Asia."
"Orang kulit putih juga sama," saya balas berseloroh. "Wajah kalian kayak sudah diatur macam seragam."
Untuk kali pertama dalam beberapa waktu, saya baru melihatnya tertawa lepas. Kedua bahunya yang besar bergoyang-goyang. "Jadi, kamu asal negara mana?"
"Indonesia."
Otomatis dia berseru, seakan baru saja mendengar mantra yang membangunkannya dari tidur siang. "Aku belum pernah ke sana tapi sudah lama masuk ke daftar tujuan liburanku. Kudengar di sana banyak tempat yang menarik."
Saya pun tertawa getir. "Kamu bisa bilang begitu karena kamu turis."
"Ah, maaf," orang asing itu sontak mencicit, raut wajahnya kontras berubah, "apa ada sesuatu yang salah?"
Saya cepat-cepat menggeleng. "Sudah rahasia umum. Banyak sekali orang Indonesia yang rela meninggalkan keluarga hanya untuk mencari penghidupan yang layak di sini. Aku nggak mau mengeluh sebetulnya..."
"Mengeluh juga nggak apa-apa," dia menyela, nada suaranya kali ini terdengar rendah namun penuh penekanan. "Setiap orang punya penderitaan masing-masing, jadi aku nggak akan menghakimi apa pun yang diceritakan. Aku akan dengar."
Perkataan itu sedikitnya mengusik sesuatu dalam batin saya. Sesuatu yang entah apa. Berkali-kali saya meyakinkan diri bahwa sosok yang masih duduk di samping saya sekarang hanyalah orang asing. Cuma manusia sekali lewat yang kemudian akan terlupakan sekaligus melupakan eksistensi saya.
Tapi mengapa dia terus menatap saya seolah-olah saya adalah bagian terpenting dalam perjalanannya?
Diam-diam saya mengembuskan napas, memberi sedikit jeda. "Nggak ada masalah sih, cuma agak capek saja. Bagaimana denganmu?"
Orang asing itu berjengit. "Aku? Kenapa aku?"
"Sudah berapa lama di sini?"
"Aku baru sampai sini pagi kemarin. Sebelumnya aku di Shanghai, mungkin dua atau tiga hari dari sini, aku bakal ke Korea. Perjalanan terakhir sebagai mahasiswa karena minggu depan aku harus balik ke negaraku sebagai laki-laki dewasa."
"Jadi kamu merasa belum dewasa?"
Dia diam sebentar. Namun kali ini diamnya terasa lain. "Jelas akan ada perbedaan."
Mendadak saya merasakan sesuatu mengimpit dada, agak sesak. "Tapi kan setidaknya kamu bisa menikmati liburanmu dengan paspor kuat itu."
Orang asing itu cuma nyengir. Memamerkan deretan giginya yang rapi dan kecil-kecil. "Aku nggak akan protes soal itu."
Dalam beberapa menit, hidangan makan siang saya sudah lenyap. Perut yang tadinya terasa ringan mulai memberat. Saya berusaha menahan diri namun sendawa dari kerongkongan saya tahu-tahu saja meledak.
Alih-alih mengernyit, orang asing yang masih menyesap birnya itu langsung menyemburkan tawa. "Maaf, maaf. Kamu lucu sekali!"
Hah? Saya bingung. "Aku kan nggak ngelawak?"
"Iya, tapi kamu lucu. Energimu menyenangkan."
Ketika mendengar itu, saya mendadak kikuk. Tidak tahu harus merespons apa. Cepat-cepat saya mencari distraksi. "Jadi, setelah ini kamu mau ke mana lagi?"
Dia berdeham. "Aku juga nggak tahu. Penerbanganmu jam berapa?"
"Jam sembilan nanti," dan saya terkejut begitu mata saya menatap arloji di tangan. Ternyata sudah tiga jam berlalu dan saya merasa waktu seperti melayang dalam sekedip mata. "Sisa lima jam lagi."
Orang asing itu menyesap birnya lagi, dan kembali menoleh untuk menatap saya. "Apa perlu kutemani sampai masuk bandara?"
"Eh? Kenapa harus repot-repot?"
"Sama sekali nggak repot," dia menyahut cepat. "Aku senang bisa ngobrol begini."
Sebetulnya siapa orang ini?
Diam-diam saya mencerna apa yang saya dengar. Diam-diam pula saya memperhatikan detai-detail kecil seperti bagaimana cara jemarinya memilin tisu dan napasnya yang kadang menghela berat. Beban apa yang sedang ditanggungnya? Apa saya perlu tahu semua itu?
Tapi lagi-lagi saya tersadar, dia cuma orang asing. Itu bukan urusan saya.
"Kamu nggak terganggu kan?"
Saya tersedak saat baru saja menyeruput teh susu. "Aku nggak masalah. Cuma aku penasaran... kamu nggak coba cari teman lain, begitu?"
"Sebetulnya aku lebih suka sendiri, sih."
"Kenapa?"
"Nggak bakal ada orang yang memperlambat atau bikin kamu terburu-buru. Kamu bisa fokus dengan dirimu sendiri."
Spontan saya terperenyak. Perkataan itu persis apa yang saya katakan kepada teman-teman manakala mereka ingin tahu alasan mengapa saya yang lebih sering menghabiskan waktu sendiri. Alih-alih punya pacar, saya lebih memilih meringkuk di kamar sendirian untuk sekadar membaca buku atau tidur. Bagi saya, berhubungan dengan manusia dengan beragam isi kepala itu cukup menguras energi.
"Jadi kamu introvert?" akhirnya saya kembali melempar tanya.
"Nggak juga," orang asing itu menyangkal. "Aku suka bergaul. Aku dulu tipe anak muda yang "ibukota" banget. Sampai kemudian aku tinggal di pinggiran kabupaten di Australia untuk bekerja, di situ aku sadar, ternyata aku lebih menyukai kehidupan yang soliter."
Saya mengangguk-angguk. "Lalu kenapa nggak lanjut di sana?"
"COVID," dia tergelak, namun ada kepahitan yang menguar di sana. "Jadi aku harus balik ke Eropa. Menyebalkan memang. Tapi mau bagaimana lagi."
Kami sama-sama diam.
"Bagaimana denganmu?"
Saya menghela, lalu membetulkan poni yang berantakan. "Nggak ada yang menarik buat diceritakan. Isinya penderitaan semua."
Orang asing itu mengerucutkan bibir. "Ayolah, kita kan teman!"
"Sejak kapan?"
"Sejak tiga jam yang lalu!"
Sejujurnya, saya bukan jenis manusia yang gampang membuka diri, terutama kepada orang-orang asing yang mungkin tidak akan lagi relevan di masa mendatang. Tidak ada gunanya membuang waktu dan energi untuk mengutarakan narasi tentang ini dan itu karena sudah pasti kami tidak akan pernah bertemu lagi. Tapi entah mengapa, bersama orang asing satu ini, saya seperti menemukan sesuatu yang lain.
Sesuatu yang sulit dipahami logika.
Dia begitu terasa... familiar. Semua bergerak secara natural dan tanpa paksaan. Mengalir sangat ringan.
Siapa orang ini?
Orang asing itu menenggak sisa birnya yang terakhir lalu mendesah.
"Mau tambah lagi?"
Dia menggeleng. "Untuk sekarang sih sudah cukup," tangannya menggeser botol yang kosong ke sisi. "Kamu nggak mau jalan-jalan ke sekitar?"
Gantian saya yang menggeleng. "Di sini lebih menyenangkan."
"Kamu sungguhan nggak mau coba char siu?"
"Daging babi, kan?" saya memastikan. "Aku nggak makan babi."
"AH!" orang asing itu berseru kembali. Selama bertahun-tahun, baru kali ini saya menemukan laki-laki seekspresif ini. "Kamu muslim?"
"Memangnya kelihatan?"
"Kan nggak makan babi?"
"Wah, kamu banyak tahu, ya."
"Di negaraku, populasi muslim sudah mulai diperhitungkan buat keputusan politik. Banyak sekali nilai-nilai yang berseberangan dengan kultur asli Eropa. Aku nggak mau menyinggungmu, tapi menurutku memuja seorang pedofil itu semacam agama yang nggak masuk akal."
Saya tidak bereaksi. Hanya bertanya, "Siapa yang pedofil?"
"Muhammad."
"Oh," saya mengangguk-angguk. "Aku bukan ahli agama, tapi menelan suatu informasi tanpa sumber yang jelas, buatku lebih nggak masuk akal."
"Aku sudah banyak baca dari berbagai sumber. Aku tahu mana-mana sumber yang bisa dipercaya dan yang enggak."
"Kalau begitu kamu harus belajar lebih banyak lagi."
"Jangan pikir aku akan pindah agama, ya."
Wah? Saya mengedipkan mata. "Kalau kamu belajar tentang komunisme, apakah lantas kamu jadi penganut komunis?"
Tidak ada argumen.
"Memperdebatkan agama memang hal yang menyebalkan karena itu cuma bakal menimbulkan bias. Nggak ada yang salah maupun benar. Sifatnya horisontal. Tapi kamu percaya Tuhan?"
"Enggak."
"Aku percaya."
"Bagaimana bisa kamu percaya atas hal yang nggak bisa kamu lihat?"
"Dengan merasakannya." Saya membenahi posisi duduk, menatap lurus mengamati lalu lintas. Tampak sepasang kakek nenek sedang melangkah bersisian menyeberangi jalanan.
"Kamu tahu," mata hijau keabu-abuan milik laki-laki itu turut beralih menatap jalanan, menangkap objek yang sama. "Aku pernah berada di titik sehancur-hancurnya, setiap malam mempertanyakan keberadaan tuhan, tapi pada akhirnya aku cuma punya diri sendiri."
"Itu karena kamu meragukan-Nya."
"Maksudmu?"
"Aku sama sepertimu, dulu," saya berkata. "Setiap malam, sebelum tidur, aku selalu berdoa kepada Tuhan agar Dia mau membawaku pergi. Tapi kenyataannya, besok-besok Dia akan memberiku alasan lain untuk tetap hidup."
"Ah, aku prihatin..."
"Nggak, nggak," saya menyergah. "Aku sedang cerita bagaimana cara Tuhan bekerja dalam hidupku."
"Dan kamu nggak sedikit pun menganggap jangan-jangan pikiranmu salah?"
"Apanya yang salah?" saya balik bertanya. "Kamu boleh tidak percaya agama, tentu, itu buatan manusia. Tapi Tuhan? Dia universal. Kasih sayangnya berlaku untuk siapa pun tanpa pandang bulu. Kamu lihat anjing liar di sebelah sana?" Telunjuk saya mengarah seekor anjing yang sedang berlari-larian di melintasi pedestrian. "Apakah anjing itu punya agama? Apakah anjing itu khawatir bagaimana dia bisa makan besok?"
Orang asing itu masih mengatupkan bibir.
"Anjing itu nggak tahu hidupnya akan berakhir di mana, tapi dia tetap menjalani hidupnya karena percaya bahwa ada sosok yang lebih berdaya yang mengendalikan seluruh isi dunia."
"Tuhan?"
"Jelas."
"Tetap nggak masuk akal."
"Karena Tuhan selalu hadir di luar bayangan kita. Akal manusia terbatas, dan Tuhan melebihi semua itu. "
Dengan mata separuh menerawang, orang asing itu menumpukan satu tangan besarnya ke dagu.
"Seperti sekarang," saya sedikit merendahkan suara. "Beberapa jam yang lalu, aku seperti merasa terisolasi. Nggak ada satu pun yang bisa kuajak bicara. Dan lihatlah sekarang."
Orang asing itu mengangkat alis.
"Aku ada di sini, dan kamu bicara denganku!" saya mengguratkan senyum sumringah. "Bukankah itu cara Tuhan memenuhi kebutuhan makhluk-Nya?"
Saya ingin mencintai kehidupan lagi.
Begitu kedua mata kami bertemu, saya seakan mengenali sesuatu. Laki-laki itu muncul seperti cermin yang memantulkan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah saya sadari. Dia hadir untuk merobek lapisan demi lapisan untuk kemudian menunjukkan siapa diri saya yang sebenarnya.
Orang asing itu... bukan sekadar orang asing.
"Sudah pukul tujuh malam."
Saya tergugah, kaget. "Artinya aku harus buru-buru ke bandara."
"Aku antar."
Saya menahannya. "Nggak perlu."
"Kenapa?"
"Aku cuma ingin pertemuan ini sampai di sini saja dulu," saya mengulas senyum, lalu meraih tas dari meja dan beranjak. "Terima kasih untuk pembicaraannya hari ini!"
Lalu saya bergerak menuju kasir, membayar semua total pesanan lalu menyeret koper yang sempat saya titipkan di konter khusus.
Percakapan yang indah, saya membatin, dan saya baru ingat kalau saya belum tahu namanya. Tetapi begitu saya berbalik untuk menemuinya lagi, orang asing itu sudah menghilang. [ ]
