"Anata Ni Deatte, Yokatta..." (Fanfic anime pertama gue._.)

Jumat, 14 September 2012

Inti ceritanya tentang Kagome-Inuyasha-Kikyo u,u dan arti judul diatas itu: "Aku Senang Bisa Mengenalmu," wahahaha *brb nutup tab gugel translate* xD
Jadi pairingnya pas awal InuKyo, tapi ujungnya balik ke InuGome lagi =))

Oleh: Sri Amalia Kusuma Wardani

Tetesan bening yang lahir dari langit meluncur menyirami bumi yang awalnya terasa begitu gersang. Gemericik air dan hembusan berisik angin bercampur, menimbulkan riuh suasana malam ini. Terutama gemuruh petir bersahut-sahutan, seolah tidak mau kalah dan terus menggelegar memekakkan setiap pasang telinga.


Di sisi lain, lelaki dengan sepasang telinga aneh yang menyerupai telinga anjing itu duduk termenung di bawah rimbunnya pohon yang masih terasa basah. Seakan menantang kilatan petir, lelaki itu tetap tak bergeming. Tiba-tiba, telinganya bergerak-gerak instingtif mendapati sebuah bunyi gemerisik aneh di sekitarnya. Ia beringsut, melangkah mencari tahu. Tidak peduli akan hujan yang dengan ganas mengguyurnya begitu deras. 

Lelaki dengan rambut peraknya tercenung. Tertegun. Menghentikan langkahnya. Jantungnya terdiam sejenak. Matanya terasa panas seolah ada sesuatu yang hendak turun dari pelupuknya. Pupil berwarna emasnya melebar, mendapati seseorang terbaring membisu di tengah kejamnya siraman air hujan. Seseorang yang mungkin sekarang sulit untuk terhapus dari relung jiwanya yang sempat kosong. 
Kikyo.
Lelaki itu bergerak perlahan, mendekati Kikyo. Angin meniup geram menyerangnya dan sang gadis. Membuat pakaian miko yang sedang dikenakan gadis tersebut tersibak. Luka... luka berlubang itu masih tampak jelas dari pakaian putih Kikyo. Luka yang sangat hampa. Tak ada darah, tidak ada nanah. Luka itu hanyalah... sebuah luka yang kosong.

Gadis itu memaksa kelopak matanya untuk membuka. Samar-samar, terlihat seseorang dengan rambut peraknya yang panjang menjuntai ke bawah menatapnya dengan pilu. "Inuyasha..." desisnya. Suaranya tenggelam oleh badai hujan yang terasa semakin kencang.

Lelaki itu seketika memeluknya. Kikyo masih mampu merasakan hangatnya tubuh Inuyasha, meskipun sesungguhnya tubuhnya kini hanyalah sebuat kesemuan yang nyata. Badan porselen. Dirinya hanya sebuah boneka, sekarang. Ia tersenyum tanpa arti. Menganggap semua yang terjadi di masa silam adalah hal-hal paradoks yang membuat lelaki bodoh itu terus memeluknya. Semakin erat, bahkan.

"Kenapa kau tidak pernah melepaskanku?"

Inuyasha mengendurkan dekapannya. Ia tepekur. Sepasang bola mata emasnya terlihat buram, menyisakan air mata yang tersamar oleh air hujan. "Tidak. Kapanpun, aku tidak akan pernah melepaskanmu." sahutnya bergetar. Lelaki egois itu seakan melumer menjadi kepingan kotoran yang tidak berguna. Kotoran yang pantas untuk dibuang jauh-jauh. Kikyo tersenyum dengan berjuta sinisme menggumpal di wajahnya.

"Benarkah?" Kikyo mencoba melepaskan rangkulan Inuyasha. Gadis itu bangkit, lalu terduduk.

Inuyasha mengangguk. Masih memandang dengan tatapan sendunya. Yang terkadang menurut Kikyo, itu hanyalah tatapan muslihat yang kerap menjebaknya.
"Tapi aku membencimu, Inuyasha! Jika aku pulih dari penderitaan biadab ini, aku tak akan pernah segan mengirimmu ke neraka." Antipati yang sekarang bergumul dalam batin Kikyo bergejolak membuatnya sedikit sesak. "Sebaiknya, kau pergi saja! Jangan pernah menemuiku lagi." lanjutnya dengan kerlingan mengerikan yang melintas dari sepasang bola matanya.

Lelaki itu menghela nafas berat. "Kau tampak kedinginan." ujarnya sembari melepaskan jubah dari kulit tikus api berwarna merahnya lalu menyelubungkan ke tubuh Kikyo yang lembab. Namun Kikyo menyergahnya. Menatap Inuyasha dengan marah.
"Kau... jangan pernah merasa iba padaku! Aku sama sekali tidak membutuhkan setengah siluman bodoh, sepertimu! Pergi! Pergilah..." suara gadis itu menggelegar mengalahkan petir yang menghantam sebuah pohon besar di seberang mereka.

Penyesalan yang mendalam tersirat membingkai raut wajah Inuyasha. Matanya berkaca-kaca, hanyut dalam seribu penyesalan yang sengaja ia tanam jauh dari dasar batinnya. Ia tidak peduli terhadap dendam kesumat yang sengaja diumbar Kikyo. Ia merasa tidak peduli lagi dengan bola Shikon no Tama yang hampir menjadi miliknya seutuhnya. Yang ia inginkan hanyalah... Kikyo kembali. Hidup bersamanya dengan sempurna. Mengulang kembali dan mengubur rasa sakit yang pernah mengerubunginya di dalam kesunyian. Menginginkan Kikyo kembali, dan mengajaknya bermain dalam sandiwara megah yang tidakkan pernah usai. Hanya itu.
"Kikyo, aku akan berusaha untuk mengembalikan jiwamu sepenuhnya. Dan tetaplah bersamaku. Aku hanya... tidak ingin terjadi sesuatu padamu."

"Mengembalikan jiwaku? Bagaimana dengan gadis itu? Dia adalah reinkarnasi dari diriku, dan hanya dialah yang mampu membuatku kembali seperti awal."

"Terserah. Apapun caranya."

"Dan tentunya, dia akan mati..." Kikyo mengulas senyum licik. Bibirnya merekah mentertawakan kebodohan Inuyasha.

Inuyasha kembali terdiam. Tatapannya menerawang. Haruskah ia mengorbankan Kagome, hanya untuk mengembalikan Kikyo? Haruskah ia mengkhianati seluruh kebaikan Kagome yang selama ini terus mengiringinya, hanya untuk membuat Kikyo bersamanya lagi? Apakah ini adalah keputusan yang egois?

"Adakah cara lain yang terasa lebih halus?" Inuyasha mengulang kembali pikirannya. Ia tidak mungkin mengalihkan jiwa Kagome dan menukarnya ke dalam tubuh Kikyo.

"Atau, kau berikan saja seluruh pecahan Shikon no Tama itu padaku."

"Ta...tapi. Pecahan itu sedang tidak bersamaku,"

"Perempuan itu yang menyimpannya? Rampas... dan sedikitlah egois, jika kau benar-benar mencintaiku." ucap Kikyo berdiri dan berusaha menstabilisasikan sepasang kakinya agar tidak goyah.

Hujan semakin deras. Gemuruh petir meraung-raung seolah meratapi semuanya. Badai menerjang menunjukkan ketangguhannya menguasai bumi saat ini. Gelap malam terasa begitu pekat, dan hanya terlihat jelas dikala gelegar kilat membelah tanah. Membuat bumi ini seolah terasa sangat tua dan rapuh.

"Waktuku telah habis, Inuyasha. Aku harus pergi sekarang." Kikyo melangkahkan sepasang kakinya yang tersembunyi di balik hakama. "Putuskan semuanya. Lalu temui aku di bawah Pohon Tua ini. Selamat tinggal..." tambahnya lantas samar-samar menghilang dari balik keremangan malam.

"Kikyo!!" Inuyasha berusaha mencegah. Namun perempuan itu tak gentar dari lajunya. Inuyasha mencoba mengejarnya, namun sekarang yang dilihat hanyalah rimbun pepohonan besar. Kosong. Hujan seketika mereda. Terhenti. Tidak ada lagi hingar bingar suara petir. Angin bertiup mengalun, tidak sesangar beberapa menit yang lalu. Kikyo sekarang sudah menghilang. Benar-benar menghilang.
     
Inuyasha terbangun dari tidurnya. Apakah semuanya hanya mimpi? Ia meraba-raba tubuhnya. Merasakan dirinya begitu lembab seakan seseorang sudah mengguyurnya dengan air atau sejenisnya. Ya, itu mimpi. Mimpi yang nyata. Sangat nyata.

Kikyo.
Nama itu kembali terpetik di dalam benaknya. Gugur berjatuhan menimpa seluruh memori ingatannya. Dan kini ia yakin, mimpi itu adalah tanda dari Kikyo. Tanda untuk kembali pada perempuan itu.
Lamat-lamat, Inuyasha mengedarkan seluruh pandangannya. Miroku yang sedang terlelap di sampingnya, Shippo yang terus mendengkur sejak malam berganti. Sango dan Kagome tidur di atas dipan pondok dimana mereka berteduh. Satu hal... tidak ada Kikyo. Tidak ada Kikyo disini.

Malam masih terasa sangat panjang. Inuyasha tetap terjaga, memikirkan mimpi itu. Haruskah ia menyerahkan seluruh pecahan Shikon no Tama yang selama ini ia rebut mati-matian dari siluman lain hanya untuk diberikan kepada Kikyo? Dan pergi bersamanya meninggalkan Miroku, Sango.... dan Kagome? Meninggalkan Shippo dan semuanya?
Sulit.

                                                                      xoxoxoxo

"Kagome, berikan seluruh pecahan Shikon no Tama itu padaku." suara Inuyasha menggema membuat Kagome terkejut. Gadis itu memiringkan kepalanya.

"Untuk apa?"

"Kau akan segera mengetahuinya," sahut lelaki setengah manusia itu datar. Tidak ada ekspresi yang tepat terlukis mengitari wajahnya. Dingin. Kagome merasakan seolah dirinya sedang tidak bersama Inuyasha yang biasanya.

Kagome menepis perasaan itu. Kemudian tangan kanannya terulur, menyerahkan serangkaian Shikon no Tama yang terjalin dalam benang yang cukup panjang. Tanpa berkata apapun, Inuyasha mengambilnya dan segera berlalu.

"Inuyasha, kau kenapa?" tegur Miroku heran.

"Aku? Tidak ada apa-apa," sahut Inuyasha acuh tak acuh. "Ayo sekarang kita pergi!" ujarnya kemudian beranjak dan segera keluar dari tempat persinggahan.

Miroku hanya berkernyit tak paham. Begitu juga Sango dan Shippo. Sedangkan Kagome, ia hanya menatap Inuyasha penuh kejanggalan.
Namun mereka berempat tidak berniat berkomentar apapun, dan hanya memilih untuk mengikuti Inuyasha.
                                           
Sekitar 3 jam lebih mereka berjalan. Rasa lelah bergelantung melingkari rombongan pemburu Shikon no Tama ini, dan memutuskan untuk beristirahat sejenak

Dan disinilah... bagi Kagome, sesuatu yang janggal itu terjawab.
"Kagome..." panggil Inuyasha ketika Miroku dan Sango berdua sedang mencari makanan. Sedangkan Shippo, dia malah sibuk menyiapkan buah-buahan untuk persediaan jika rombongan ini kelaparan.

"Aku rasa, sebaiknya kau pulang saja dan kembali ke Tokyo." ucap Inuyasha menunduk. Kalimat itu... persis seperti sambaran geledek di hari yang sama sekali tidak mendung. Kagome terdiam menatap Inuyasha tidak percaya.
"A... apa maksudmu?" Kagome berusaha memperlurus dugaannya.

Inuyasha tersenyum getir. "Aku terlalu gegabah untuk mengajakmu kesini. Kau masih punya dunia nyata, dan hiduplah dengan normal. Aku yakin, keluargamu sudah sangat merindukanmu disana. Pulanglah,"

Kagome tertawa ringan. "Hey bodoh. Ada apa denganmu? Untuk apa kau menyuruhku pulang?"
Namun Inuyasha sama sekali tidak tertarik untuk ikut tertawa. Ternyata dirinya benar-benar serius.

"Maafkan aku. Aku sangat bersalah sudah menjebakmu untuk ikut bersamaku. Kembalilah kepada keluargamu." tutur Inuyasha tersenyum. Dirinya tampak lebih tenang dari hari-hari sebelumnya.

"Lalu bagaimana dengan bola Shikon no Tama itu?"

"Biarkan aku dan Kikyo yang menjaganya..."

Kikyo.
Ternyata itu yang membuat Inuyasha menjadi seperti ini. Kagome dapat merasakan relung di antara paru-paru dan hatinya berhimpit. Sesak. Semakin sesak.
Di dalam kalbunya Kagome menyalahkan dirinya sendiri. Salahnya telah bertemu dengan Inuyasha. Salahnya kenapa ia harus dilahirkan dalam bentuk reinkarnasi sang Miko, Kikyo... yang buktinya menyimpan banyak kenangan masa lalu yang begitu berarti bagi Inuyasha. Degup jantungnya terhempas, menggedor-gedor dadanya yang masih terasa amat sesak. Ia menyayangi Inuyasha, tapi apa yang bisa perbuat jika Inuyasha sendiri tidak mampu melepaskan bayang-bayang Kikyo. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menuruti apa yang dikatakan Inuyasha. Membuat orang yang kita cintai menjadi bahagia adalah hal yang terbaik, bukan? Dan sekarang ia harus pergi. Pergi untuk kembali ke dunia dimana seharusnya ia berada. Ia bersyukur jika Kikyo dan Inuyasha benar-benar akan bersatu. Bersyukur walau perih... ya, perih.

"Baiklah, jika itu baik untukmu." Kagome beringsut dari duduknya. Suaranya terdengar bergetar. Sesekali ia menggigit bibir, menahan agar airmatanya tidak membuncah. Kikyo, jaga Inuyasha baik-baik. Batinnya berbisik, sulit melepas Inuyasha dari hidupnya. Namun percuma juga jika ia tetap bertahan disini, sedangkan Inuyasha sudah beriringan bersama Kikyo. Lagipula, dunia disini sudah terlalu tua untuknya. Terlalu rapuh... sama sepertinya sekarang.

 Selamat tinggal, Inuyasha. Selamat tinggal Shippo, Sango dan Miroku... selamat tinggal nenek Kaede. 

"Nona Kagome? Kau mau kemana? Mana Inuyasha?" tiba-tiba Miroku muncul dari balik semak ilalang.

Kagome tidak menjawab. Dirinya hanya terfokus menatap bumi. Kakinya pun tak bisa ia hentikan. Ia harus pulang. Sekarang.
Ia malu kepada langit. Ia malu kepada semuanya. Ia bahkan malu pada dirinya sendiri yang seakan merebut Inuyasha sehingga membuat Kikyo sering murka.

"Kagome-sama! Tunggu!" Miroku mengejar Kagome dan menghalau gadis cantik itu. "Kau kenapa? Kenapa semuanya berubah aneh hari ini?" Miroku menarik Kagome. Gadis itu mendongakkan kepalanya. Matanya sembab dan merah. "K..kau menangis?" Miroku kaget.

"Lepaskan aku, Miroku!" Kagome memberontak membuat cengkeraman tangan Miroku terlepas. "Aku harus pulang sekarang, maafkan aku!" Kagome membungkukkan badannya lalu berlari entah kemana.

"NONA KAGOME!!!" Miroku berusaha mengejar Kagome, namun tidak berhasil. "Ini pasti karena Inuyasha... bodoh sekali dia!" Miroku mendesis tajam membayangkan betapa bahagianya jika ia mampu menonjok wajah Inuyasha yang sudah berulangkali membuat Kagome terluka.

"Inuyasha!" bentak Miroku sepulang dari mencari makanan.

"Apa??!" sahut Inuyasha sebal. Tiba-tiba lelaki berkuncir itu memukul Inuyasha dengan tongkat biksunya. "K..kau...!" Inuyasha balas membentak sembari mengusap-usap kepalanya yang terasa ngilu.

"Ada apa dengan Nona Kagome? Kenapa dia menangis?" Biksu itu berkacak pinggang geram menatap marah Inuyasha. Namun Sang Hanyo itu terdiam. Tidak menjawab.

"Apa kau yang menyuruhnya pulang?"

Inuyasha membuang nafas. "Benar. Aku yang menyuruhnya. Aku kasihan padanya jika terus menerus hidup disini."

BUKKKHH

Tinju keras dari kepalan Miroku akhirnya mendarat tepat di pipi kiri Inuyasha. Tampak memar kelihatannya.

"APA MAKSUDMU?" Inuyasha mendengus murka. Kedua taringnya terlihat jelas, menunjukkan sisi iblisnya.

"Inuyasha. Kau sudah gegabah! Aku sudah tahu dari awal jika kau ingin menemui Kikyo. Tapi kau bodoh, menyuruh Kagome pulang hanya akan membuat dirimu terbunuh!" Miroku mencoba memperingatkan.

"Tahu darimana kau?"

"Kau selalu mengigau, menyebut-nyebut nama perempuan itu setiap malam. Inuyasha, sadarlah! Kikyo sudah pergi.. dia tidak akan pernah kembali seperti dulu, kecuali Naraku lah yang membuatnya hidup kembali!"

Inuyasha tertegun. Mencoba mencerna kata-kata Miroku. Tapi kata hatinya selalu yakin bahwa Kikyo benar-benar akan hidup bersamanya selamanya.
"Tidak... aku yakin, Kikyo akan benar-benar kembali." ucapnya dengan mata menerawang.

Dari ujung sana Sango berlari menampilkan wajah penuh kegelisahan. "Barusan aku bertemu Kagome, ia bilang ia ingin pulang... aku berusaha mencegahnya tapi dia sudah terlanjur meluncur ke dalam sumur tua itu bersama sepedanya...." terang Sango terengah-engah. Air matanya meledak meluncur tak terbendung lagi

"APA?!" Shippo muncul. Ia membelalak histeris, membuat sekeranjang buah-buahan yang sedari tadi ia angkut berhambur ke tanah. "Kagome, pulang? Kagome pulang???" teriaknya tidak percaya.

"Inuyasha, coba jelaskan padaku!" Sango mengguncang-guncangkan tubuh Inuyasha. Tetapi Miroku keburu menariknya ke belakang.

"Sudahlah Sango-chan, lelaki ini memang keras kepala. Lebih baik kita tinggalkan saja dia!" tukas Miroku berang seraya melangkah berbalik arah.

"Terserah... aku bisa pergi sendiri tanpa bantuan kalian!" teriak Inuyasha tatkala semua menatapnya murka dan berbalik arah meninggalkannya.

                                                                        ********

Dengan seragamnya yang tampak lusuh, Kagome akhirnya pulang. Kali ini ia benar-benar bertekad ingin melupakan Inuyasha. Selamanya.
Gadis itu pelan-pelan mendorong sepedanya agar tidak menimbulkan deritan berisik dari belakang. Waktu sudah malam. Keluarganya sudah pulas dan terhanyut dalam tidurnya. Diintipnya mereka satu persatu.. Kakek, Shouta.. dan Ibu. Betapa Kagome sangat merindukannya!

Kagome melangkah menuju kamarnya. Bercermin pada kaca dalam ruangan itu. Matanya sembab dan bengkak. Airmatanya terasa kering... wajahnya kusut dan dekil. Tambahan lagi, hatinya masih terasa sakit. Beribukali sakitnya daripada terkena sulur Naraku.
Ia menghempaskan tubuh langsingnya ke atas kasur ranjangnya. Ah, sudah lama sekali ia tidak merasakan betapa empuknya kasur ini. Ditatapnya langit-langit kamar. Matanya kosong, seakan yang sedang ditatapnya hanyalah Inuyasaha. Inuyasha....
Kagome menjerit dalam hatinya. Bulir-bulir bening itu kemabli deras meluncur dari ujung matanya. Ia membekap kepalanya kuat-kuat dengan bantal. Ia tidak ingin mengingat orang itu lagi. Tidak ingin! Orang itu hanya khayalan belaka. Semu dan fiktif! Tidak ada Inuyasha, tidak ada Shikon no Tama, tidak ada siluman aneh. Semuanya hanyalah mimpi... dan sekarang ia harus bangun dan kembali menjalani hidup di dunia nyata. Dunia yang sebenarnya. Setelah lelah menangis, gadis itu jatuh tertidur.
Tidur. Sendirian. Di ruang yang sepi. Dan dingin.
                                                                                   ******

Tidak terasa Kagome terlelap hingga pagi tanpa berganti pakaian. Ia dapat merasakan tubuhnya gatal-gatal karena seragamnya yang sudah kotor itu. Ia bangkit... dan segera berganti pakaian.

"Kagome, kau sudah pulang?" suara Kakek mengejutkannya dari belakang. Kagome membalikkan badannya kemudian tersenyum. "Iya, Kek. Kakek bisa bantu aku?"

Orang tua itu mengangguk pasti.

"Tolong kakek tutup sumur tua di belakang itu. Kalau bisa kunci rapat-rapat..." pinta Kagome menekankan.

Kakek hanya bisa berkernyit. "Kenapa?"

"Ya... sumur tua itu sangat berbahaya dan dalam,  Kek. Bagaimana jika Shouta tiba-tiba jatuh ke dalam sumur itu ketika sedang bermain?" Kagome mencoba beralibi.

Kakek mengangguk-angguk pertanda setuju. "Baiklah, akan kakek lakukan nanti sore..."

Kagome tersenyum pahit. Walau berat rasanya, namun ia harus merelakannya. Merelakan hal-hal yang sempat membutakannya itu.
                                                                                ******

Inuyasha perlahan menelusuri jalanan menuju Pohon Tua itu berada, hanya ditemani dengan sepasang kakinya yang tidak beralas. Sambil menggenggam rangkaian Shikon no Tama, dan berharap penuh... Kikyo akan memenuhi janjinya seperti yang diucapkannya di dalam mimpi.

Hari sudah semakin gelap. Angin dingin menyerbunya dari belakang. Sekarang Hanyo itu sendirian. Tanpa siapapun di sampingnya. Tapi keyakinannya sudah kukuh.
Dan akhirnya ia menemui Pohon Tua itu. Akar besar pohon dengan rimbunnya itu menancap kuat membuat batangnya berdiri kokoh dengan angkuh.
"Kikyo... aku akan menunggumu disini. Kapanpun...!"

--

Di sisi lain Miroku baru teringat. Malam ini akan terjadi bulan baru. Ia khawatir, Inuyasha tiba-tiba disergap oleh boneka-boneka Naraku nanti. Dan tentu saja, kekuatan Inuyasha akan menghilang dan membuatnya berubah menjadi manusia sepenuhnya jika Bulan Baru sudah tiba.

"Sango! Shippo... apa kalian ingat jika tengah malam nanti akan terjadi bulan baru?" seru Miroku panik.

Sango terkesiap. Ternyata pikirannya sejalan dengan apa yang sedang menjalar di otak Miroku. Shippo pun begitu. Keringat dingin mulai mengalir, merembes melalui pori-pori ketiganya. Bulan terlihat masih malu-malu menampakkan dirinya.
Sango, Miroku dan Shippo berlari... memutar arah kembali ke tempat Inuyasha. Berharap semuanya belum terlambat. Berharap Naraku belum datang menyerang setengah siluman anjing bodoh itu dengan liciknya.

Samar-samar, bulan sabit sudah meyembul dari gumpalan sang awan. Inuyasha menggigil, menanti Kikyo yang tidak kunjung datang. "Kikyo, datanglah. Aku disini..." bisiknya gemetar.

Tak lama, suara gemerisik semak belukar terdengar membuat telinga anjing Inuyasha bergerak. Pupil emasnya membesar. "Kikyo? Itukah kau?" suaranya terdengar lega.

"Inuyasha..."
Gadis itu muncul. Terlihat berseri-seri dengan senyuman khasnya. Membuat Inuyasha kembali terhanyut dalam balutan masa lalu. "Kikyo... aku sudah berada disini," bisik Inuyasha. Perlahan mendekati Miko itu.

Sayangnya, lolongan anjing hutan mengganggu keberadaan mereka berdua. Semuanya terasa lebih mendung dari semula. Namun Inuyasha sama sekali tidak mengacuhkannya. Ia tetap terpana menatap Kikyo yang sekarang sudah berada di hadapannya.

"Inuyasha, kau memenuhi janjimu?" desah Kikyo dengan suara keibuannya. Inuyasha tersenyum, sembari mengulurkan rangkaian pecahana Shikon no Tama itu....

"INUYASHA! HATI-HATI!!"
suara Sango menghentikan mereka berdua. Membuat kalung pecahan Permata Empat Jiwa itu tak sengaja terjatuh ke tanah.

CRASSSS...
Anak panah kini sudah menancap di bahu kiri Inuyasha.
"Kikyo?"
Kikyo tersenyum datar dengan busur dan anak panah yang tergenggam di tangannya. Ia tertawa meremehkan.. "Inuyasha, kau bodoh sekali! Kau masih terlalu kecil untuk pecahan Shikon---" Kikyo membelalak geram, tatkala melihat Shippo yang sudah berlari menuju Miroku dan Sango usai memungut kembali permata itu.
"Brengsek!!" Kikyo menembakkan panah itu ke arah siluman rubah kecil itu. Beruntung, Shippo dengan gesitnya mampu mengelak.

Inuyasha tersungkur hingga jatuh terduduk. Ia merasakan dirinya melemah dan tidak berdaya. Satu menit.. 2 menit... 5 menit... penampilannya berubah. Rambut peraknya berubah warna menjadi hitam cemerlang, pupilnya yang tajam dan bulat mengecil dengan bola mata yang semula berwarna emas juga turut berubah hitam. Taringnya menghilang, telinga anjingnya menyusut. Kuku-kukunya yang tajam juga raib. Dan sekarang... tinggallah Inuyasha dengan sosok manusia biasa.

"Shippo, jaga Inuyasha!" perintah Miroku sementara dirinya sibuk menghindar tembakan demi tembakkan anak panah yang dilontarkan oleh Kikyo.

"Aku tahu kau bukan Kikyo! Naraku, brengsek kau!!" teriak Sango berang seraya melemparkan boomerangnya. Dan yah, kepala Kikyo tertebas oleh senjata itu. Benar saja, itu ternyata bukanlah Kikyo. Kikyo yang tadi hanyalah sebuah ilusi Naraku semata yang dibuatnya dengan menggunakan batang kayu melalui sihir biadabnya. Miroku mendengus tajam, kemudian berlari menghampiri Inuyasha yang masih tergolek lemas.

"Kikyo---"
Masih saja. Inuyasha tidak henti-hentinya memanggil nama itu. Membuat Miroku lagi-lagi ingin meninjunya, namun dicegah oleh Sango.
"Jangan, Miroku-kun! Dia sedang terluka. Sebaiknya kita obati dia dulu..."

Shippo dengan persiapan yang lengkap, tidak sengaja membawa ramuan obat buatan Kaede-sama di sakunya. Membuat Inuyasha akhirnya tersadar. Buru-buru Inuyasha tersentak dan segera bangun. "Eh... apa-apaan kalian?"

"Inuyasha, kau sudah sadar?" teriak Shippo gembira.

"Ma... mana Kagome?" Inuyasha menyebut nama gadis itu seakan tidak terjadi masalah apapun sebelumnya. Miroku, Sango dan Shippo hanya tertegun. Menatap Inuyasha seakan Sang Hanyo baru saja menebas leher mereka masing-masing.
"Hey, jawab!! Mana Kagome?" bentak Inuyasha menyadarkan mereka bertiga.

"I...Inuyasha. Kau gila atau kenapa? Kau tidak ingat jika kau yang menyuruh Kagome-chan pulang?" Sango angkat bicara.
Inuyasha membelalak aneh. "Pulang? Kapan? Tidak! Aku tidak pernah melakukannya!" kilah Inuyasha sengit.

Miroku menyandarkan tongkat biksunya. "Kurasa, tadi adalah salah satu sihir Naraku yang berhasil membuat Inuyasha bodoh seperti itu." titah Miroku bertopang dagu.

"Hey, apa maksudmu??!" Inuyasha masih tidak terima dibilang bodoh.

Sejurus kemudian di tengah keremangan malam, sebuah pusaran angin berputar mengitari mereka. Kagura? Gadis siluman dengan kipas saktinya itu meneyeringai picik menatap Inuyasha remeh. Ia terkikik nyaring...
"Inuyasha bodoh! Tidak kusangka, seorang anak dari siluman terkuat disini bisa diperdaya semudah ini?"

Inuyasha bangkit, dan hendak mencabut pedang Tetsusaiga miliknya. Namun apa boleh buat, semuanya telah hilang. Ia tidak sekuat itu.

"Mau apa kau, Inyasha? Menebasku dengan pedang mainanmu itu, hah?" cela Kagura pongah.

Melihat sejolinya direndahkan, rasa geram Miroku kini sudah tak terbendung lagi. Sehingga membuat Kagura terpancing untuk bertarung dengannya.

"Hey biksu jelek! Apa yang kau punya? Lubang angin yang bisa membunuhmu sendiri?!" bentak Kagura sinisme. Sialan!  Pertempuran sengit itu akhirnya memuncak ketika Kagura berusaha membasminya dengan kipas itu.

Dan pada akhirnya, berbagai macam siluman muncul menyerang mereka berempat. Inuyasha berusaha sekuat mungkin untuk melawan, namun sia-sia saja. Yang ada dirinya hanya mampu menyakiti diri sendiri.

Kagome. 
Ia teringat gadis cantik itu. Apa yang sudah ia perbuat? Mengusirnya? Apa yang sudah membuatnya mengusir Kagome? Inuyasha bahkan tidak ingat sama sekali. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Dan sekarang, jika Kagome kembali lagi... ia berjanji akan benar-benar melupakan masa lalunya. Mengubur dalam-dalam kenangannya bersama Kikyo. Ia akan terus menjaga Kagome kapanpun, dan berjanji tidak akan pernah melukai gadis itu lagi. Karena sekarang, kesadarannya sudah pulih... Ia sebenarnya mencintai Kagome. Bukan Kikyo...
Naraku lah yang sudah memanipulasi semuanya. Membuat bayang-bayang Kikyo yang selalu muncul secara tiba-tiba. Memancingnya untuk mengingat kenangan silam. Ia masih menganggap diri Kikyo penting, tetapi ia merasa Kagome jauh lebih penting baginya. Sekarang. Dan yang akan datang. Karena ia yakin, Kagome adalah bentuk baru dari diri Kikyo. Kikyo yang sudah meninggal di dekapannya dengan damai dan penuh senyuman, puluhan tahun lalu. Kikyo yang sebenarnya sudah pergi. Kikyo yang asli. Bukan hasil 'rancangan' dari siluman jahannam, Naraku.

Di tempat lain, Kagome kembali merasa gelisah dalam lelapnya. Ia benar-benar tidak bisa tidur. Hatinya terasa ngilu, seakan ada ikatan batin tertentu yang menyerang dirinya. Inuyasha.... Gadis itu tepekur sejenak, memikirkan orang itu. Hatinya tergerak untuk kembali ke Sumur Pemakan Tulang. Ia rindu... sangat rindu.

Diam-diam, ia mengambil sekumpulan anak panah dan busurnya lantas beringsut ke luar kamar. Berjalan mengendap-endap ke belakang rumah, menuju sumur tua itu.
Perlahan namun pasti, Kagome membuka segel-segel dan penutup sumur yang dibuat Kakek kemarin sore. Aneh, baru sehari saja... tetapi segel-nya sudah banyak yang hancur. Apakah... ada seseorang yang menghantamnya dari dalam sana? Pikir Kagome, terdiam sebentar.

Usai seluruh segel terbuka, Kagome menghela nafas. Bersiap-siap meluncur. Dengan keyakinan hati yang begitu kuat... Kagome masuk ke dalam sumur itu, dan...

TRAANGGG..
Suara hantaman tongkat Miroku dan pedang siluman api suruhan Naraku berdentang memecah gendang telinga. Sedangkan Sango sibuk membasmi seluruh siluman-siluman dengan rupa yang menjijikkan, yang menyerang mereka tanpa aturan main. Inuyasha duduk terdiam. Merasa tidak berguna dan benar... dia memang bdodoh, sekarang.

Tanpa disadari, dari belakang Naraku dengan wujud manusia sumringah mengendap-endap... mengincar pecahan Shikon no Tama yang sedang berada di genggaman Shippo. Inuyasha sama sekali tidak tahu menahu, akibat insting anjingnya berubah menjadi sosok manusia seutuhnya.

"HATI-HATI SHIPPO!!"
Dari belakang terdengar suara teriakan Kagome yang membuat semuanya terkejut. Dengan gesit, Kagome menembakkan anak panahnya mengarah ke jantung Naraku. Dan... tepat! Naraku terkapar, dengan dada tertancap benda tajam itu. Siluman biadab itu menghilang, entah apakah dia sudah mati atau hanya sekadar melarikan diri. Karena semua tahu, Naraku hanyalah sosok Onigumo yang buruk rupa dan pengecut. Ia hanya memanfaatkan orang-orang untuk memenuhi apa yang dia inginkan.

"Ka...Kagome?" Inuyasha meneguk ludahnya. Menatap Kagome yang masih memakai piyama tidurnya. Doanya terkabul. Kagome benar kembali. Dadanya terasa penuh, membuatnya ingin memeluk gadis itu. Tapi, rasa gengsi kembali menguasai dirinya.

"Kagome-chan...?" ucap Miroku, Sango dan Shippo serempak. Shippo menangis haru dan langsung menghambur ke arah Kagome. Memeluknya.

"Aku merindukanmu, Kagome-chan..." Airmata Shippo seketika tumpah. Kagome hanya tersenyum seraya membelai Shippo.

Inuyasha hanya menatap diam Kagome. Tidak mampu berkata apa-apa. Ia hanya bisa terpaku. Merasa berdosa dengan titisan Kikyo itu.

"Kenapa kau lihat-lihat?" ketus Kagome sinis. Ia langsung memalingkan mukanya.

Inuyasha yang semula menatapnya sendu, berbalik seraya menatapnya dengan jengkel. "Iya.. aku tahu! Maafkan aku..." ucapnya sebal.

"Apa? Apa yang kau katakan barusan?" pinta Kagome seraya menukikan telinganya mengarah Inuyasha.

"Maafkan aku!" ucap Inuyasha sekali lagi dengan nada yang lebih keras.

"Apa? Maaf, aku tidak dengar..."

"Aku bilang... MAAFKAN AKU! AKU TAHU AKU SALAH! JADI MAAFKAN AKU!!" bentak Inuyasha begitu sebalnya. Walau dalam hatinya, ia sebenarnya sangat bahagia melihat Kagome sudah kembali.

Kagome tertegun. Lalu berhambur dan memeluk Inuyasha dengan erat. Inuyasha seketika membeku. Jantungnya berhenti sejenak. Lalu kembali berdetak, namun dengan tempo yang berdentum-dentum. Desiran pembuluh darahnya begitu hebat, membuat seluruh tubuhnya terasa hangat. Ia yakin Kagome dapat mendengarkan alunan debaran jantungnya yang berdengung saat itu. Lantas, ia balas memeluk Kagome.... Lebih erat. "Maafkan aku... aku sama sekali tidak bermaksud untuk---"

"Aku tahu. Aku yang salah. Seharusnya aku tidak pergi begitu saja meninggalkanmu." tutur Kagome bergetar. Sepertinya ia mulai terisak.

Inuyasha mengecup ubun-ubun Kagome dengan lembut. "Sekarang... aku berjanji akan melepaskan Kikyo selamanya. Dan Kagome, berjanjilah untuk menjadi Kikyo-ku sekarang dan di masa akan datang..." pintanya.

"Inuyasha, aku selalu berusaha. Tanpa kau pinta pun aku sudah berusaha sedemikian rupa." sahutnya sesenggukan.

Inuyasha yang biasanya keras kepala dan egois kini berubah menjadi sosok manusia yang melankolis.
"Aku.... mencintaimu, Kagome. Maafkan aku jika selama ini aku selalu melukaimu. Maafkan aku," tuturnya seraya melepas dekapannya.

Kagome mengusap sisa-sisa kristal beningnya. "Inuyasha, aku bahagia bisa mengenalmu..." ucapnya dengan beragam perasaan yang sudah tak menentu lagi.



                                                                 ---ooOoo---

Tamat. *backsound: Fukai Mori :"
Haha sori gajelas yak :p
Maklum masih newbie bikin ff anime.

























0 komentar:

Poskan Komentar